Training Effective Performance Management with Balanced Scorecard

Training Effective Performance Management with Balanced Scorecard

Salah satu metode yang sering digunakan manajemen kinerja perusahaan adalah Balanced Scorecard (BSC) sebagai metode penilaian kinerja organisasi yang berorientasi pada pandangan strategi masa depan.

Pelatihan ini mencakup metoddologi balanced scorecard, tetapi lebih dalam lagi dari BSC-01 (Fundamental Balance Scorecard). Topik ini menyediakan lebih banyak alat dan teknik untuk membantu manajer dan analisis membangun, menyebarkan, dan mempertahankan sistem scorecard dalam organisasi mereka .

Pengantar Balanced Scorecard diperlukan sebelum mengambil pelatihan ini karena dibangun diatas pengetahuan sebelumnya dengan berfokus pada kesulitan pengembangan scorecard dan nuansa yang ditemukan di dunia nyata organisasi yang telah menerapkan kerangka BSC.

Topik ini membahas tinjauan singkat dari langkah dasar BSC, dan kemudian secara mendalam membahas tahapan sistem Scorecard di seluruh organisasi, mengevaluasi dampak dari sistem scorecard dan membuat koreksi yang diperlukan. Training ini mencakup fokus dengan tambahan kompetensi pada manajemen perubahan dan fasilitasi tim Strategis BSC.

 

Materi Pembelajaran

  1. Cara berpikir secara strategis dan menghindari kebuntuan dalam rincian taktis BSC.
  2. Bagaimana merancang  dan menerapkan scorecard dimana kerangka kerja lainnya telah diperkenalkan
  3. Bagaimana merevisi elemen score card yang dirancang buruk, berdasarkan contoh nyata BSC
  4. “Best Practice” (Praktek terbaik) Balanced Scorecard
  5. Konsep lanjut dalam pengukuran kinerja BSC
  6. Bagaimana melakukan tahapan scorecard di seluruh organisasi perusahaan
  7. Mengatasi hambatan dan tantangan dunia nyata BSC
  8. Evaluasi dokumen perencanaan dan proses BSC

 

Partisipan Pelatihan

CEO / Manager / Assistant Manager / Supervisor

 

Trainer

Djadja Sardjana, ST., MM (Human Capital Development Consultant)

Cara Memilih Knowledge Management System Terbaik

dq12

Knowledge Management System atau disingkat KMS adalah salah satu aspek dalam Knowledge Management yang mengacu pada berbagai sistem informasi tekhnologi atau IT yang dipergunakan untuk menyimpan dan menyebarluaskan pengetahuan yang ada sehingga dapat meningkatkan kolaborasi, dapat dipergunakan untuk menemukan sumber pengetahuan yang dicari, serta dipergunakan dalam berbagai cara lain untuk bisa meningkatkan proses KM itu sendiri.

Untuk bisa mengimplementasikan konsep knowledge management (KM) dengan baik, ada berbagai cara atau dalam hal ini berbagai pilihan knowledge management system (KMS) yang bisa dipilih, yang akan sangat membantu dalam membuat proses implementasi berjalan dengan efektif. Beberapa pilihan KMS itu sendiri berupa

  • Sistem Groupware
  • Intranet dan extranet
  • Sistem managemen dokumentasi
  • Sistem managemen konten
  • Sistem pendukung keputusan
  • Penggalian dan penyimpanan data
  • Alat simulasi
  • Jaringan semantik
  • Alat penggunaan artificial inteligence

Setiap organisasi bisa memilih satu atau beberapa sistem sekaligus di dalam organisasi mereka. Namun pemilihan ini harus dilakukan dengan tepat agar sistem yang dipilih bisa berfungsi dengan maksimal. Untuk bisa memilih KMS yang paling baik yang sesuai dengan organisasi yang ada, maka ada beberapa langkah pemilihan yang bisa diambil yaitu:

1. Melakukan identifikasi internal terhadap organisasi itu sendiri

Identifikasi ini dilakukan dalam rangka mengenali berbagai permasalahan yang ada, yang sekiranya bisa diselesaikan dengan menggunakan KMS. Dengan begini, sistem KMS yang akan dipilih nanti akan bisa diselaraskan dengan tujuan dari organisasi yang ada, dan nantinya akan membantu organisasi untuk mencapai tujuan tersebut

2. Mencari tahu jenis KMS yang ada

Hal ini adalah langkah selanjutnya dalam proses pemilihan KMS yang paling tepat. Ada beberapa hal yang perlu diketahui dari masing-masing pilihan KMS yang ada mulai dari metode atau cara pengoperasian, melakukan evaluasi mengenai tingkat kompleksitas dari masing-masing pilihan, biaya yang dibutuhkan dalam pengoperasian sistem yang ada, biaya pelatihan serta biaya untuk melakukan update dari sistem tersebut.

3. Memilih jenis KMS yang sesuai dengan organisasi

Berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan mengenai masing-masing pilihan dari KMS tersebut, maka sebuah organisasi bisa memilih jenis KMS yang mana yang paling sesuai dengan kondisi yang ada, dan bisa mulai melakukan persiapan-persiapan untuk bisa menerapkan sistem yang telah dipilih di dalam lingkungan kerja organisasi tersebut

Setiap organisasi memiliki kebutuhan, situasi, kondisi dan tantangan yang berbeda-beda, sehingga sistem yang sama belum tentu akan bisa berfungsi dengan maksimal dalam dua organisasi yang berbeda.Setelah proses pemilihan KMS, perlu dilakukan evaluasi dari waktu ke waktu untuk bisa melihat tingkat efektifitas dari sistem yang telah dipilih dan melakukan perubahan-perubahan yang dibutuhkan.

4 Tips Mewujudkan Kantor Paperless

paperless

4 Tips Mewujudkan Kantor Paperless : Istilah ‘kantor paperless’ atau ‘kantor tanpa kertas’ yang telah didengungkan hampir lima dekade terakhir tampaknya tidak dapat diwujudkan semudah yang dibayangkan. Berbagai aktivitas yang dijalankan di tempat kerja tidak serta merta dapat ‘di-dijital-isasi’ karena berbagai alasan, seperti surat-surat perjanjian dan dokumen-dokumen lain yang tetap diperlukan dalam bentuk fisik kertas.

Namun demikian,  mewujudkan ‘kantor tanpa kertas’ dapat diupayakan (meskipun tidak 100%) dengan beberapa tips berikut ini :

#1 Batasi Penggunaan dan Bujet Pembelian Kertas

Apabila memang penggunaan kertas oleh para karyawan tidak dapat dihindari, cobalah untuk menghitung ulang berapa halaman kertas yang dihabiskan oleh tiap karyawan tiap harinya? Apakah memungkinkan untuk mengurangi jumlah halaman yang dihabiskan tiap harinya?

Membatasi penggunaan kertas berarti membiasakan para karyawan untuk lebih cermat dalam menggunakan kertas yang tersedia. Dengan pembatasan penggunaan karyawan diharapkan dapat lebih hemat dan cerdik dalam menghabiskan kertas, apakah dengan menggunakan kembali kertas-kertas bekas dan atau mengalihkan ke bentuk dijital.

Dengan membatasi penggunaan kertas oleh para karyawan otomatis dapat mengurangi bujet perusahaan secara keseluruhan juga, dan lebih penting lagi adalah membiasakan budaya menghemat kertas pada karyawan.

#2 Perbarui Proses Bisnis Anda

Jika Anda serius ingin mewujudkan ‘kantor tanpa kertas’ maka fokuslah pada pembaruan proses bisnis yang selama ini berjalan. Periksalah kembali berbagai prosedur yang menghabiskan sumberdaya kertas selama ini.

Beberapa upaya dapat dilakukan :

  1. Ubahlah prosedur penandatanganan dokumen fisik (terutama pada proses bisnis internal) menjadi bentuk penandatanganan elektronik.
  2. Ubahlah prosedur pengiriman dokumen yang selama ini menggunakan mesin fax menjadi pengiriman dukumen dijital berbentuk pdf melalui email. Banyak aplikasi gratis yang dapat dengan mudah mengkonversi dokumen menjadi format dijital seperti pdf ini.

#3 Sediakan Infrastruktur Pendukung

‘kantor tanpa kertas’ perlu didukung oleh infrastruktur kantor yang memadai. Apakah sudah tersedia scanner di tiap unit kerja? Atau pernah kah Anda mempertimbangkan untuk memberikan fasilitas proyektor / monitor tambahan bagi karyawan?

Scanner akan sangat membantu karyawan dalam melakukan dijitalisasi dokumen dan proyektor akan sangat membantu karyawan dalam mengatasi permasalahan lintas rujukan yang selama ini harus melalui dokumen yang tercetak.

#4 Gunakan Aplikasi-Aplikasi Pendukung

Era teknologi dijital saat ini telah memberikan solusi terbaik untuk mewujudkan ‘kantor tanpa kertas’. Berbagai software dapat mendukung produktivitas karyawan seperti aplikasi Optical Character Reconition (OCR), Google Docs, Evernote dan sebagainya.

Apakah Anda siap mewujudkan ‘kantor tanpa kertas’ mulai hari ini?

[Infografis] Roadmap Implementasi Elearning

Infografis Roadmap Implementasi Elearning

Roadmap Implementasi Elearning
[klik pada gambar untuk ukuran lebih besar]
  1. Tahap Inisiatif.
    Elearning baru sekedar dicoba dan dieksplorasi oleh unit / divisi kerja yang bertanggungjawab terhadap kegiatan diklat (biasanya divisi Diklat / Pengembangan SDM / Learning Center / dsb)
  2. Tahap Alat Dukung.
    Elearning dijadikan sebagai komponen tambahan dalam proses diklat / training yang berjalan di perusahaan (eksisting). Elearning menjadi media tambahan / pendukung training yang berjalan.
  3. Tahap Enabler.
    Elearning dijadikan sebagai media utama untuk menjalankan diklat yang sebelumnya tidak ada. Elearning akan menjadi pembuka peluang baru, terobosan organisasi dan media baru.
  4. Tahap Alat Transformasi.
    Elearning adalah alat untuk membawa perusahaan ke level lebih tinggi melalui keunggulan teknologi yaitu BCLF — better, cheaper, larger dan faster. Elearning menjadi penggerak utama, breakthrough, akselerator, pembaruan.

 

===

Download Ebook: 5 Langkah Kunci Implementasi Elearning Perusahaan

download 5 Langkah Kunci Implementasi Elearning Perusahaan