Kesalahan Umum dalam Pembuatan Kursus E-Learning

kesalahan umum e-learning

Ada beberapa kesalahan yang secara tidak langsung banyak dilakukan oleh para profesional di bidang e-learning. Kesalahan-kesalahan ini pada umumnya terjadi karena para pelaku tidak menyempatkan diri dan waktu mereka untuk lebih mengenal para calon trainee yang akan mengikuti kursus e-learning yang dibangunnya.

Kesalahan-kesalahan tersebut bisa berupa:

1. Terlalu bergantung pada intuisi dan pengalaman, serta tidak memperhatikan kebutuhan para trainee yang sebenarnya

Hal ini umum terjadi para mereka yang ahli dalam suatu bidang tertentu, dimana mereka melupakan bahwa untuk bisa menjadi seorang profesional, ada banyak langkah yang harus diambil. Hal ini justru akan memberatkan para trainee dan bisa menghalangi tercapainya tujuan yang diharapkan.

2. Berfokus pada upaya menyajikan informasi dan kurang memperhatikan proses pembelajaran dari para trainee.

Penyajian informasi merupakan hal yang penting dalam sebuah kursus e-learning, namun bila hal ini tidak disertai dengan memberikan kesempatan pada para trainee untuk mengaplikasikannya, maka seluruh informasi tersebut akan menjadi sia-sia.

3. Tidak memahami hal yang memotivasi dan mendorong para trainee untuk Belajar

Kurangnya motivasi para trainee menjadi salah satu sumber kegagalan kursus e-learning. Para trainer perlu mencari tahu apa yang menjadi motivasi utama mereka, misalnya saja dengan berfokus pada upaya peningkatan performa kerja setiap trainee. Bila seorang trainee merasa bahwa performa mereka meningkat, maka hal ini bisa membantu meningkatkan antusiasme mereka untuk mengikuti proses pembelajaran.

4. Merancang kursus dalam skala besar

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan kursus e-learning dalam skala besar, namun perlu diperhatikan apakah hal ini memang sudah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan para trainee. Kursus e-learning yang baik adalah kursus yang sederhana dan mampu memenuhi kebutuhan para trainee pada saat mereka membutuhkannya.

5. Tidak menyadari kebutuhan khusus dari para trainee

Setiap trainer perlu mengenal lebih jauh mengenai calon trainee yang akan mengikuti kursus. Cari tahu apakah ada kebutuhan khusus yang perlu diantisipasi sebelumnya misalnya saja kondisi cacat fisik, kondisi lingkungan kerja yang tidak mendukung kegiatan e-learning atau bisa juga berupa hambatan dalam penguasaan tekhnologi.

 

Semua kesalahan tersebut bisa dihindari dengan mencoba mencari informasi lebih dalam mengenai para calon trainee. Sebuah assesmen singkat bisa membantu memberikan gambaran kepada para trainer mengenai calon trainee yang akan mereka hadapi, sehingga mereka bisa merancang kursus e-learning yang benar-benar tepat sasaran.

Storytelling: Cara Jitu Knowledge Sharing

consultacy

Storytelling atau bercerita merupakan sebuah praktek kuno yang telah dilakukan sejak jaman dahulu kala, sebagai salah satu cara untuk menyampaikan sesuatu hal yang penuh makna dan juga emosi. Penggunaan storytelling bisa menjadi salah satu cara untuk menarik perhatian para pendengar dan secara tidak langsung meningkatkan kemampuan para pendengar untuk mendengarkan dan mempelajari sesuatu dari cerita tersebut.

Sang pencerita atau mereka yang melakukan storytelling bisa berbagi banyak hal termasuk juga pengetahuan yang mereka miliki, pengalaman serta berbagai hal lain yang dalam dunia knowledge management (KM) termasuk dalam golongan tacit knowledge. Cerita yang baik akan mampu meninggalkan kesan yang mendalam kepada para pendengarnya dan hal inilah yang membuat storytelling memiliki potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai salah satu metode dalam knowledge sharing.

Salah satu pendapat yang mendukung mengenai penggunan storytelling dalam sebuah organisasi adalah Liebowitz. Menurut beliau, storytelling bisa menangkap cerita dan pengalaman serta rutinitas sebuah organisasi di masa lalu, sehingga memudahkan para pekerja di masa sekarang untuk memanfaatkan inti cerita tersebut dan mengadaptasikannya dengan kondisi yang ada.

Ada berbagai potensi manfaat dan applikasi dari storytelling yang bisa dipergunakan di dalam sebuah organisasi atau sebuah perusahaan. Storytelling bisa dipergunakan dalam upaya untuk melakukan monitoring terhadap sebuah sistem yang sedang berjalan, sebagai upaya pemecahan masalah, sebagai metode pemanasan dalam sebuah workshop, sebagai bentuk latihan dalam sebuah tim atau komunitas dan bisa juga dimanfaatkan sebagai cara untuk memecah penghalang yang ada antara orang-orang yang berasal dari disiplin ilmu atau asal budaya yang berbeda.

Untuk bisa mendapatkan hasil yang diinginkan melalui storytelling, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Hal-hal ini dipaparkan oleh Sole dan Wilson pada tahun 2002 dan hal-hal tersebut adalah:

  • Menetapkan tujuan yang jelas dari cerita tersebut
  • Memberikan cerita yang sederhana, yaitu cerita yang mudah dipahami oleh para pendengarnya
  • Mencoba untuk menggunakan lebih dari satu medium dalam proses bercerita misalnya saja gambar atau video
  • Memonitor bagaimana reaksi para pendengar dalam mendengarkan cerita. Bisa dilakukan perubahan-perubahan tertentu agar cerita tersebut bisa menjadi lebih menarik baik dalam hal cara bercerita ataupun penambahan medium cerita
  • Melatih kemampuan bercerita agar menjadi lebih baik lagi.

Artikel tentang Knowledge Management sebelumnya :

1. Cara Efektif Menerapkan Knowledge Management

2. Cara memilih strategi manajemen pengetahuan yang tepat

3. Tips Knowledge Management untuk meningkatkan Service Quality

Kapan Waktu yang Tepat Menggunakan BSC?

dq10

Sebelum menganut sistem penilaian kinerja modern Balanced Scorecard, sebagian besar perusahaan masih menganut sistem tradisional yang mengedepankan tangible asset yang melingkupi aspek finansial dan keuntungan semata. Sistem tradisional tersebut menggunakan penilaian keuangan ROI (Return on Investment), profit margin, maupun rasio operasi yang mengedepankan kekayaan serta laba yang cenderung hanya meraup keuntungan jangka pendek.

Kapan Waktu yang Tepat Menggunakan BSC?

Jika perusahaan ingin bertahan selama mungkin di masa mendatang dan bersaing secara kompetitif di era informasi, maka perusahaan harus mulai memikirkan keuntungan jangka panjang. Salah satunya dengan memikirkan loyalitas pelanggan. Dalam sistem penilaian kinerja Balanced Scorecard, loyalitas pelanggan menjadi salah satu perspektif yang diperhatikan dan dikatagorikan sebagai Intangible Asset yang menyangkut pentingnya sumberdaya manusia.

Perspektif-perspektif non keuangan tersebut akan memberikan keuntungan yang saling menguntungkan antara pemilik perusahaan, para pemegang saham, maupun para pelanggan yang loyal dan bersifat profit. Untuk lebih lengkapnya, terdapat beberapa alasan spesifik terkait ketepatan waktu sebuah perusahaan menganut sistem penilaian kinerja Balanced Scorecard, yaitu :

  • Harga

Loyalitas pelanggan menjadi sangat penting di tengah maraknya kompetitor di ranah produk yang sama bagi sebuah perusahaan. Persaingan akan semakin gencar dengan diluncurkan banyak sistem yang mempermudah tranksaksi produk. Jika perusahaan masih berkutat di sistem tradisional tanpa adanya transformasi performa meliputi inisiatif maupun inovasi, maka bukan tidak mungkin jika perusahaan tersebut akan bangkrut sewaktu-waktu tergerus oleh zaman dan kebutuhan.

  • Produktivitas

Produktivitas akan mempengaruhi harga (meliputi keuntungan dan laba) pada produk perusahaan. Perusahaan yang kurang produktif dalam memanajemen sumberdaya manusia tentu akan mengalami kerugian yang signifikan di masa sekarang maupun di masa mendatang.

  • Profitabilitas

Konsep profit atau keuntungan tidak akan terlaksana tanpa adanya sistem yang terintergrasi dan menyeluruh. Sistem penilaian kinerja Balanced Scorecard akan melingkupi seluruh aspek yang mengedapankan pengembangan seluruh sumberdaya yang ada. Hal ini apabila diterapkan secara konsisten akan mampu mendongkrak nilai keuntungan jangka panjang bagi perusahaan.

Waspada! 4 Rintangan Implementasi BSC

http://www.dataquest.co.id/events/month/

Meskipun Balanced Scorecard merupakan metode terbaik dalam meningkatkan kinerja manajemen suatu perusahaan, namun faktanya, masih ditemukan sejumlah perusahaan yang merasa gagal saat mengimplementasikannya. Rupanya terdapat beberapa hal yang abai diwaspadai para pemangku kepentingan di perusahaan supaya mereka bisa mendapat manfaat maksimal dari metode Balanced Scorecard tersebut.

Pada dasarnya, metode Balanced Scorecard memfokuskan seluruh level dalam suatu perusahaan pada indikator kinerja utama (Key Performance Indicator) berdasarkan strategi yang ditetapkan. Namun untuk mengoptimalkan, sebaiknya perusahaan menggunakan sistem Balanced Scorecard yang dirancang otomatis dengan software Balanced Scorecard. Penggunaan software otomatis akan memudahkan perusahaan dalam proses pemantauan hingga pengelolaan kinerja. Software ini cenderung efisien karena bisa dikerjakan dengan cepat dalam keadaan online. Penyelesaian masalah juga bisa dilakukan dengan cepat dan terintegrasi langsung dengan pemiliki KPI.

Software Balanced Scorecard juga akan berdampak positif pada pelaksanaan rapat-rapat ekskutif. Para pemilik KPI bisa memfokuskan kinerja yang masih jauh dari harapan. Sehingga tidak ada waktu yang terbuang hanya dengan membicarakan pengambilan keputusan, namun secara signifikan bisa dialihkan pada strategi kinerja jangka panjang perusahaan.

Di samping itu, terdapat empat faktor rintangan yang harus diwaspadai supaya implementasi Balanced Scorecard bisa bermanfaat secara optimal.

#1 Rintangan visi

Faktanya, tidak semua anggota perusahaan memahami visi dan misi perusahaan mereka. Kondisi ini dapat mengacaukan fokus pelaksaan strategi kinerja. Sistem Balanced Scorecard otomatis juga tidak akan bisa berjalan secara efektif.

#2 Rintangan orang

Seluruh anggota perusahaan merupakan aset penting yang harus dijaga dioptimalkan kemampuannya demi tercapainya kinerja yang optimal. Namun faktanya, tidak semua perusahaan memperlakukan seluruh anggotanya dengan baik. Menurunnya kinerja anggota perusahaan akan berpengaruh secara keseluruhan terhadap unggulnya produk perusahaan. Hal ini bisa diatasi dengan pemberian bonus maupun hukuman untuk memotivasi para anggota perusahaan.

#3 Rintangan sumberdaya

Sumberdaya ini meliputi penggunaan anggaran yang tidak semestinya pada suatu perusahaan dan menyebabkan pemborosan. Untuk dapat mencapai strategi meningkatkan kinerja, diperlukan dana yang seharusnya dilibatkan ke dalam anggaran perusahaan. Supaya efektif, dana tersebut harus relevan dengan strategi peningkatkan kinerja. Terutama yang terkait dengan metode Balanced Scorecard.

#4 Rintangan manajemen

Manajemen yang baik akan fokus pada upaya implementasi strategi kinerja jangka panjang. Bukan pada pengambilan keputusan jangka pendek. Sehingga hal ini seringkali menyebabkan metode Balanced Scorecard tidak efektif diimplementasikan.

Bagaimana? apakah 4 Rintangan Implementasi BSC tersebut sudah dapat Anda waspadai?

Tips Memaksimalkan Balanced Scorecard

Tips Memaksimalkan Balanced Scorecard

Tips memaksimalkan balanced scorecard: Konsep balanced scorecard (BSC) adalah konsep yang sangat umum dan sangat bermanfaat dalam sistem manajemen dan perencanaan strategi di dalam sebuah perusahaan atau organisasi. Pentingnya penggunaan konsep ini membuat hampir setiap perusahaan menyediakan sumber daya sendiri untuk memaksimalkan penggunaan konsep BSC.

Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa dipergunakan untuk memaksimalkan balanced scorecard sehingga bisa memberikan hasil seperti yang diharapkan:

  • Tidak berhenti pada pengukuran semata.
    Konsep BSC memang merupakan konsep yang dapat dipergunakan untuk mengukur performa dari perusahaan atau organisasi dari 4 perspektif yang berbeda yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif bisnis internal dan juga perspektif pertumbuhan dan perkembangan. Namun banyak perusahaan yang menghabiskan sumber daya untuk upaya pengukuran semata dan tidak mengambil langkah lebih lanjut berdasarkan hasil pengukuran tadi
  • Tidak membiarkan budget yang ada menjadi penghalang utama pelaksanaan strategi.
    Keterbatasan budget memang menjadi sebuah masalah yang umum dihadapi oleh sebuah perusahaan, namun hal ini tidak bisa dijadikan faktor utama yang mendikte arah jalannya strategi yang hendak dijalankan. Kondisi yang paling ideal adalah perencanaan strategi yang solid, yang dibarengi dengan evaluasi dengan menggunakan konsep BSC yang akan membantu menjaga proses budgeting agar tidak keluar jalur
  • Memulai segala sesuatunya dengan tepat.
    Pemilihan konten strategi yang tepat adalah kunci awal pelaksanaan yang sukses. Sebuah strategi yang tepat yang dibuat seiring dengan hasil BSC harus bisa menjawa semua tantangan dan meminimalisir resiko-resiko kesalahan yang mungkin terjadi
  • Menggunakan konsep BSC yang tepat, yang sesuai dengan ukuran perusahaan

Hal-hal tersebut akan sangat membantu dalam memaksimalkan penggunaan konsep BSC di dalam setiap lingkup perusahaan atau organisasi, sehingga bisa memberikan hasil yang sesuai dengan harapan.

logo-dq-001

Copyright © 2020 Dataquest Leverage Indonesia. All Rights Reserved.