Prodi Pariwisata Berkelanjutan Unpad Gelar Kuliah Umum Menggunakan Sistem Blended Learning

Prodi Pariwisata Berkelanjutan Unpad Gelar Kuliah Umum Menggunakan Sistem Blended Learning

Program studi Pariwisata Berkelanjutan Universitas Padjadjaran menggelar kuliah umum “SEADCORE: Disaster Resiliance and the Value of Local Traditional Culture” yang digelar di kampus Sekolah Pascasarjana Unpad, Jalan Dipati Ukur No. 35, Bandung, Rabu (6/2) lalu.

Kuliah umum ini menggunakan system Blended Learning, dimana pembelajaran berlangsung dengan dua cara, yaitu tatap muka (langsung) dan via e-learning Live Unpad yang dibuat oleh PT. Dataquest Leverage Indonesia.

Blended learning diterapkan untuk memberikan fleksibilitas memilih waktu dan tempat dalam mengakses pembelajaran. Mahasiswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pembelajaran disampaikan.

humas-unpad-2019-02-11-Kuliah-Umum-Pariwisata-Berkelanjutan-2 (1)

Acara ini menghadirkan tiga akademisi, yaitu: Dr. Male Lujan Escalante dari Lancaster University, Dr. Christine Mortimer dari Nottingham Trent Business School, dan Dr. Dicky Muslim selaku dosen dan Ketua Pusat Studi Geologi Lingkungan, Rekayasa, dan Kebencanaan Fakultas Teknik Geologi Unpad.

Ketua program studi Pariwisata Berkelanjutan Unpad Dr. Evi Novianti, M.Si., mengatakan, kuliah umum ini digelar untuk membuka cakrawala mahasiswa maupun masyarakat umum mengenai dunia kepariwisataan.

 

Kesalahan Umum dalam Pembuatan Kursus E-Learning

kesalahan umum e-learning

Ada beberapa kesalahan yang secara tidak langsung banyak dilakukan oleh para profesional di bidang e-learning. Kesalahan-kesalahan ini pada umumnya terjadi karena para pelaku tidak menyempatkan diri dan waktu mereka untuk lebih mengenal para calon trainee yang akan mengikuti kursus e-learning yang dibangunnya.

Kesalahan-kesalahan tersebut bisa berupa:

1. Terlalu bergantung pada intuisi dan pengalaman, serta tidak memperhatikan kebutuhan para trainee yang sebenarnya

Hal ini umum terjadi para mereka yang ahli dalam suatu bidang tertentu, dimana mereka melupakan bahwa untuk bisa menjadi seorang profesional, ada banyak langkah yang harus diambil. Hal ini justru akan memberatkan para trainee dan bisa menghalangi tercapainya tujuan yang diharapkan.

2. Berfokus pada upaya menyajikan informasi dan kurang memperhatikan proses pembelajaran dari para trainee.

Penyajian informasi merupakan hal yang penting dalam sebuah kursus e-learning, namun bila hal ini tidak disertai dengan memberikan kesempatan pada para trainee untuk mengaplikasikannya, maka seluruh informasi tersebut akan menjadi sia-sia.

3. Tidak memahami hal yang memotivasi dan mendorong para trainee untuk Belajar

Kurangnya motivasi para trainee menjadi salah satu sumber kegagalan kursus e-learning. Para trainer perlu mencari tahu apa yang menjadi motivasi utama mereka, misalnya saja dengan berfokus pada upaya peningkatan performa kerja setiap trainee. Bila seorang trainee merasa bahwa performa mereka meningkat, maka hal ini bisa membantu meningkatkan antusiasme mereka untuk mengikuti proses pembelajaran.

4. Merancang kursus dalam skala besar

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan kursus e-learning dalam skala besar, namun perlu diperhatikan apakah hal ini memang sudah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan para trainee. Kursus e-learning yang baik adalah kursus yang sederhana dan mampu memenuhi kebutuhan para trainee pada saat mereka membutuhkannya.

5. Tidak menyadari kebutuhan khusus dari para trainee

Setiap trainer perlu mengenal lebih jauh mengenai calon trainee yang akan mengikuti kursus. Cari tahu apakah ada kebutuhan khusus yang perlu diantisipasi sebelumnya misalnya saja kondisi cacat fisik, kondisi lingkungan kerja yang tidak mendukung kegiatan e-learning atau bisa juga berupa hambatan dalam penguasaan tekhnologi.

 

Semua kesalahan tersebut bisa dihindari dengan mencoba mencari informasi lebih dalam mengenai para calon trainee. Sebuah assesmen singkat bisa membantu memberikan gambaran kepada para trainer mengenai calon trainee yang akan mereka hadapi, sehingga mereka bisa merancang kursus e-learning yang benar-benar tepat sasaran.

Cara Mudah Membangun dan Membuat Kursus E-Learning

evolusi meja kerja

Popularitas dari e-learning saat ini semakin meroket, dimana ada begitu banyak kursus yang menggunakan metode ini dibandingkan dengan metode konvensional. Tidak heran pula bila banyak pelaku e-learning yang bermunculan dan menawarkan beragam kursus e-learning.

Popularitas dari e-learning saat ini semakin meroket, dimana ada begitu banyak kursus yang menggunakan metode ini dibandingkan dengan metode konvensional. Tidak heran pula bila banyak pelaku e-learning yang bermunculan dan menawarkan beragam kursus e-learning. Untuk bisa menciptakan kursus e-learning yang efektif dan menarik, ada beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu:

 Membuat struktur kursus e-learning yang jelas

Struktur yang dimaksud disini mengacu pada beberapa hal mulai dari format kursus e-learning yang akan dipergunakan, model desain instruksional, tipe atau jenis interaksi yang akan dipakai dan juga tipe tekhnologi yang akan dipergunakan

Menggunakan alat pembuatan e-learning

Salah satu cara termudah untuk membangun dan mengembangkan kursus e-learning adalah dengan menggunakan alat khusus pembuatan e-learning. Beberapa alat yang paling populer adalah Adobe Captivate dan Articulate Storyline. Kedua alat ini bisa membantu menciptakan proses pembelajaran e-learning yang interaktif dengan menggunakan berbagai macam konten dan media. Saat ini tersedia pula berbagai alat atau program lain yang dapat dipergunakan untuk tujuan ini

Melibatkan sumber-sumber informasi dari luar

Salah satu fokus utama dari e-learning adalah menghantarkan informasi kepada mereka yang membutuhkannya. Sebagian besar dari informasi-informasi ini sebenarnya sudah tersedia di luar sana dan hal ini bisa dimanfaatkan oleh para pengembang kursus e-learning. Para pengembang kursus bisa memanfaatkan hal tersebut dengan cara memberikan akses atau informasi kepada para trainee tentang bagaimana cara menemukan informasi tersebut. Hal ini akan sangat membantu para trainee untuk bisa belajar secara independen. Disisi lain, para pengembang kursus e-learning tidak perlu membuat terlalu banyak konten. Selain itu, apabila terjadi perubahan pada data atau informasi yang berkaitan dengan tema kursus tersebut, para trainee akan bisa mendapatkan update terbaru dengan mudah.

Berikan kesempatan bagi para trainee untuk mengaplikasikan ilmu baru mereka

Penggunaan latihan atau lembar kerja sederhana akan memberikan kesempatan bagi para trainee untuk melihat sejauh mana mereka mampu menyerap ilmu yang ada, dan juga memberi kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu tersebut secara langsung

Berbagai hal tersebut bisa membuat sebuah kursus e-learning menjadi jauh lebih efektif dan menarik. Jangan lupa pula untuk menyediakan sistem pendukung, dimana para trainee bisa mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan seperti halaman FAQ. Hal ini akan mendorong terciptanya kursus e-learning yang lebih efektif, untuk kepuasan semua pihak.

3 Kriteria Elearning yang Sukses

KM

Inisiatif mengimplementasikan elearning di perusahaan merupakan langkah maju dalam menyikapi peta persaingan bisnis yang semakin ketat. Dengan elearning perusahaan dapat mengembangan Sumberdaya manusia dengan lebih baik karena dibantu dengan keunggulan teknologi informasi yang saat ini menjadi tulang punggung proses bisnis di berbagai aspek. Namun, kita perlu mendefinisikan dengan baik apa saja kriteria yang menjadikan implementasi elearning kita sukses.

Elearning yang sukses terdiri dari 3 (tiga) kriteria, yaitu :

  1. Meaningful content
  2. Effective learning design
  3. Technology that works

Mari kita kupas satu per satu tiga kriteria tersebut

Meaningful Content

Meaningful content atau konten yang bermakna. Sebelum menyiapkan rancangan pembelajaran dan teknologinya, pastikan konten yang akan diberikan melalui elearning kita ini bermakna bagi calon pembelajar/pengguna.

elearning-sukses
3 kriteria elearning yang sukses

Bermakna disini berarti bahwa konten yang akan disampaikan memiliki manfaat yang besar bagi calon pembelajar/pengguna apakah itu untuk meningkatkan kompetensinya, membantu pekerjaannya atau sebagai prasyarat dalam meningkatkan level pekerjaannya.

Effective Learning Design

Effective learning design atau rancangan pembelajaran yang efektif. Konten yang bermakna dan berguna tidak cukup untuk menjadikan elearning kita dapat diterima oleh calon pembelajar / pengguna, diperlukan sebuah rancangan atau desain pembelajaran yang tepat agar konten yang sudah dipilih dapat disampaikan dengan baik hingga diterima dengan baik pula oleh pengguna.

Technology that Works

Technology that works atau teknologi yang bekerja dengan tepat. Kriteria sukses dari sebuah program elearning yang ketiga adalah “technology that works”. Kriteria ini dimaksudkan agar penyelenggara elearning dapat menghadirkan platform elearning yang bekerja dengan baik dan optimal serta mampu memberikan pengalaman belajar (learning experience) yang baik bagi penggunanya.

Pembahasannya kurang lengkap?

Benar! pembahasan tentang 3 kriteria elearning yang sukses di atas baru sekedar preview dari ebook gratis kami: 5 Langkah Kunci Implementasi Elearning Perusahaan. Silakan download bagi yang membutuhkan referensi lebih lengkapnya di sini :

download 5 Langkah Kunci Implementasi Elearning Perusahaan

Istilah-Istilah Umum Elearning

istilah-istilah umum elearning

Elearning merupakan singkatan dari Electronic Learning telah menjadi tren dan kebutuhan bagi pengembangan Sumberdaya Manusia di perusahaan saat ini. Di Indonesia sendiri, implementasi elearning di perusahaan-perusahaan sudah mulai terdengar di awal tahun 2000-an (meskipun tidak menutup kemungkinan ada yang telah mengimplementasikan sebelumnya). Elearning sebagai media pembelajaran bagi karyawan di perusahaan menawarkan banyak keuntungan, salah satunya efisiensi biaya dan waktu.

Namun, apabila Anda baru pertama kali berkenalan dan bermaksud mengimplementasikan elearning di tempat Anda terkadang dibingungkan dengan banyaknya istilah asing yang disampaikan banyak pihak, termasuk para vendor yang menawarkan jasa mengimplementasikan elearning tersebut. Jangan khawatir, berikut kami rangkumkan Istilah-Istilah Umum Elearning yang dijelaskan dengan singkat yang akan membantu Anda memahami ‘dunia’ elearning lebih mendalam.

Learning Management System (LMS)

LMS adalah perangkat lunak (software) yang didesain untuk mengelola seluruh kegiatan pembelajaran secara online/digital. Fasilitas umum yang ada pada LMS seperti fasilitas pendaftaran, login, pendaftaran kelas/training (enrollment), akses konten digital, forum diskusi, chating, tugas dan quiz.

Istilah lain yang memiliki kemiripan: LCMS (Learning & Content Management System).

Elearning Content

Elearning content atau konten elearning adalah seperangkat bahan ajar / modul digital yang merupakan sumber utama kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam program elearning.

Istilah lain yang memiliki kemiripan : Multimedia Content, Interactive content, elearning module, CBT, WBT.

SCORM

SCORM merupakan singkatan dari Sharable Content Object Reference Model adalah sebuah standar konten elearning yang didesain mengikuti aturan-aturan tertentu yang sudah disepakati sehingga dapat diupload, diakses dan dibagikan di berbagai sistem LMS yang mendukungnya. Salah satu kelebihan konten yang berbasis LMS lainnya adalah dimungkinkannya melakukan tracking terhadap aktivitas belajar tiap pengguna (waktu akses, skor, status, dan sebagainya).

Istilah lain yang memiliki kemiripan: TINCAN API, AICC, xAPI

 Synchronous learning

Secara harfiah berarti pembelajaran secara langsung. Synchronous learning Adalah model pembelajaran elearning yang menggunakan perangkat live streaming seperti video streaming, online chatting, dan sebagainya yang memungkinkan tutor/trainer dapat berkomunikasi langsung dengan para pengguna/trainee seperti layaknya pembelajaran di kelas, hanya dilakukan secara online.

Istilah lain yang memiliki kemiripan: webinar (web seminar), video streaming, instructor led training.

Asynchronous learning

Merupakan kebalikan istilah dari synchronous learning yaitu model pembelajaran elearning yang menggunakan perangkat Learning Management System (LMS) yang memungkinkan pengguna/trainee mengakses bahan ajar/modul/konten secara mandiri tanpa harus bertatap muka/berkomunikasi langsung dengan trainer/tutor-nya. Asynchronous learning dapat berupa konten, forum diskusi, penugasan, quiz, dan sebagainya.

Istilah lain yang memiliki kemiripan: self-paced learning.

Blended learning

Merupakan model pembelajaran elearning yang menggabungkan kegiatan belajar online melalui learning management system (LMS) dengan kegiatan belajar tatap muka/konvensional/classroom. Melalui model blended learning ini dimungkinkan terjadinya modifikasi kegiatan pembelajaran yang menonjolkan keunggulan online maupun tatap muka.

Istilah lain yang memiliki kemiripan: flipped classroom.

Computer Based Training (CBT)

Merupakan istilah yang lahir sebelum era jaringan komputer dan internet dapat diakses dengan mudah. CBT adalah metode pembelajaran yang dibantu oleh perangkat computer (dapat berupa CD, USB Flashdisk, atau melalui jaringan komputer. Pengguna/trainee dapat belajar menggunakan CBT dan tidak memerlukan bantuan seorang tutor/trainer.

Istilah lain yang memiliki kemiripan: elearning, WBT, self-paced learning

Masih belum lengkap?

Mari lengkapi pemahaman istilah-istilah umum Elearning tersebut di atas dengan mengunduh ebook gratis kami. Dalam ebook tersebut akan dibahas lebih lengkap Istilah-Istilah Umum Elearning. Selain itu, akan dipaparkan beberapa ‘rahasia’ sukses mengimplementasikan elearning di perusahaan Anda. Tunggu apa lagi?

download 5 Langkah Kunci Implementasi Elearning Perusahaan

logo-dq-001

Copyright © 2020 Dataquest Leverage Indonesia. All Rights Reserved.