Storytelling: Cara Jitu Knowledge Sharing

consultacy

Storytelling atau bercerita merupakan sebuah praktek kuno yang telah dilakukan sejak jaman dahulu kala, sebagai salah satu cara untuk menyampaikan sesuatu hal yang penuh makna dan juga emosi. Penggunaan storytelling bisa menjadi salah satu cara untuk menarik perhatian para pendengar dan secara tidak langsung meningkatkan kemampuan para pendengar untuk mendengarkan dan mempelajari sesuatu dari cerita tersebut.

Sang pencerita atau mereka yang melakukan storytelling bisa berbagi banyak hal termasuk juga pengetahuan yang mereka miliki, pengalaman serta berbagai hal lain yang dalam dunia knowledge management (KM) termasuk dalam golongan tacit knowledge. Cerita yang baik akan mampu meninggalkan kesan yang mendalam kepada para pendengarnya dan hal inilah yang membuat storytelling memiliki potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai salah satu metode dalam knowledge sharing.

Salah satu pendapat yang mendukung mengenai penggunan storytelling dalam sebuah organisasi adalah Liebowitz. Menurut beliau, storytelling bisa menangkap cerita dan pengalaman serta rutinitas sebuah organisasi di masa lalu, sehingga memudahkan para pekerja di masa sekarang untuk memanfaatkan inti cerita tersebut dan mengadaptasikannya dengan kondisi yang ada.

Ada berbagai potensi manfaat dan applikasi dari storytelling yang bisa dipergunakan di dalam sebuah organisasi atau sebuah perusahaan. Storytelling bisa dipergunakan dalam upaya untuk melakukan monitoring terhadap sebuah sistem yang sedang berjalan, sebagai upaya pemecahan masalah, sebagai metode pemanasan dalam sebuah workshop, sebagai bentuk latihan dalam sebuah tim atau komunitas dan bisa juga dimanfaatkan sebagai cara untuk memecah penghalang yang ada antara orang-orang yang berasal dari disiplin ilmu atau asal budaya yang berbeda.

Untuk bisa mendapatkan hasil yang diinginkan melalui storytelling, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Hal-hal ini dipaparkan oleh Sole dan Wilson pada tahun 2002 dan hal-hal tersebut adalah:

  • Menetapkan tujuan yang jelas dari cerita tersebut
  • Memberikan cerita yang sederhana, yaitu cerita yang mudah dipahami oleh para pendengarnya
  • Mencoba untuk menggunakan lebih dari satu medium dalam proses bercerita misalnya saja gambar atau video
  • Memonitor bagaimana reaksi para pendengar dalam mendengarkan cerita. Bisa dilakukan perubahan-perubahan tertentu agar cerita tersebut bisa menjadi lebih menarik baik dalam hal cara bercerita ataupun penambahan medium cerita
  • Melatih kemampuan bercerita agar menjadi lebih baik lagi.

Artikel tentang Knowledge Management sebelumnya :

1. Cara Efektif Menerapkan Knowledge Management

2. Cara memilih strategi manajemen pengetahuan yang tepat

3. Tips Knowledge Management untuk meningkatkan Service Quality

4 Tips Mewujudkan Kantor Paperless

paperless

4 Tips Mewujudkan Kantor Paperless : Istilah ‘kantor paperless’ atau ‘kantor tanpa kertas’ yang telah didengungkan hampir lima dekade terakhir tampaknya tidak dapat diwujudkan semudah yang dibayangkan. Berbagai aktivitas yang dijalankan di tempat kerja tidak serta merta dapat ‘di-dijital-isasi’ karena berbagai alasan, seperti surat-surat perjanjian dan dokumen-dokumen lain yang tetap diperlukan dalam bentuk fisik kertas.

Namun demikian,  mewujudkan ‘kantor tanpa kertas’ dapat diupayakan (meskipun tidak 100%) dengan beberapa tips berikut ini :

#1 Batasi Penggunaan dan Bujet Pembelian Kertas

Apabila memang penggunaan kertas oleh para karyawan tidak dapat dihindari, cobalah untuk menghitung ulang berapa halaman kertas yang dihabiskan oleh tiap karyawan tiap harinya? Apakah memungkinkan untuk mengurangi jumlah halaman yang dihabiskan tiap harinya?

Membatasi penggunaan kertas berarti membiasakan para karyawan untuk lebih cermat dalam menggunakan kertas yang tersedia. Dengan pembatasan penggunaan karyawan diharapkan dapat lebih hemat dan cerdik dalam menghabiskan kertas, apakah dengan menggunakan kembali kertas-kertas bekas dan atau mengalihkan ke bentuk dijital.

Dengan membatasi penggunaan kertas oleh para karyawan otomatis dapat mengurangi bujet perusahaan secara keseluruhan juga, dan lebih penting lagi adalah membiasakan budaya menghemat kertas pada karyawan.

#2 Perbarui Proses Bisnis Anda

Jika Anda serius ingin mewujudkan ‘kantor tanpa kertas’ maka fokuslah pada pembaruan proses bisnis yang selama ini berjalan. Periksalah kembali berbagai prosedur yang menghabiskan sumberdaya kertas selama ini.

Beberapa upaya dapat dilakukan :

  1. Ubahlah prosedur penandatanganan dokumen fisik (terutama pada proses bisnis internal) menjadi bentuk penandatanganan elektronik.
  2. Ubahlah prosedur pengiriman dokumen yang selama ini menggunakan mesin fax menjadi pengiriman dukumen dijital berbentuk pdf melalui email. Banyak aplikasi gratis yang dapat dengan mudah mengkonversi dokumen menjadi format dijital seperti pdf ini.

#3 Sediakan Infrastruktur Pendukung

‘kantor tanpa kertas’ perlu didukung oleh infrastruktur kantor yang memadai. Apakah sudah tersedia scanner di tiap unit kerja? Atau pernah kah Anda mempertimbangkan untuk memberikan fasilitas proyektor / monitor tambahan bagi karyawan?

Scanner akan sangat membantu karyawan dalam melakukan dijitalisasi dokumen dan proyektor akan sangat membantu karyawan dalam mengatasi permasalahan lintas rujukan yang selama ini harus melalui dokumen yang tercetak.

#4 Gunakan Aplikasi-Aplikasi Pendukung

Era teknologi dijital saat ini telah memberikan solusi terbaik untuk mewujudkan ‘kantor tanpa kertas’. Berbagai software dapat mendukung produktivitas karyawan seperti aplikasi Optical Character Reconition (OCR), Google Docs, Evernote dan sebagainya.

Apakah Anda siap mewujudkan ‘kantor tanpa kertas’ mulai hari ini?

3 Kriteria Elearning yang Sukses

KM

Inisiatif mengimplementasikan elearning di perusahaan merupakan langkah maju dalam menyikapi peta persaingan bisnis yang semakin ketat. Dengan elearning perusahaan dapat mengembangan Sumberdaya manusia dengan lebih baik karena dibantu dengan keunggulan teknologi informasi yang saat ini menjadi tulang punggung proses bisnis di berbagai aspek. Namun, kita perlu mendefinisikan dengan baik apa saja kriteria yang menjadikan implementasi elearning kita sukses.

Elearning yang sukses terdiri dari 3 (tiga) kriteria, yaitu :

  1. Meaningful content
  2. Effective learning design
  3. Technology that works

Mari kita kupas satu per satu tiga kriteria tersebut

Meaningful Content

Meaningful content atau konten yang bermakna. Sebelum menyiapkan rancangan pembelajaran dan teknologinya, pastikan konten yang akan diberikan melalui elearning kita ini bermakna bagi calon pembelajar/pengguna.

elearning-sukses
3 kriteria elearning yang sukses

Bermakna disini berarti bahwa konten yang akan disampaikan memiliki manfaat yang besar bagi calon pembelajar/pengguna apakah itu untuk meningkatkan kompetensinya, membantu pekerjaannya atau sebagai prasyarat dalam meningkatkan level pekerjaannya.

Effective Learning Design

Effective learning design atau rancangan pembelajaran yang efektif. Konten yang bermakna dan berguna tidak cukup untuk menjadikan elearning kita dapat diterima oleh calon pembelajar / pengguna, diperlukan sebuah rancangan atau desain pembelajaran yang tepat agar konten yang sudah dipilih dapat disampaikan dengan baik hingga diterima dengan baik pula oleh pengguna.

Technology that Works

Technology that works atau teknologi yang bekerja dengan tepat. Kriteria sukses dari sebuah program elearning yang ketiga adalah “technology that works”. Kriteria ini dimaksudkan agar penyelenggara elearning dapat menghadirkan platform elearning yang bekerja dengan baik dan optimal serta mampu memberikan pengalaman belajar (learning experience) yang baik bagi penggunanya.

Pembahasannya kurang lengkap?

Benar! pembahasan tentang 3 kriteria elearning yang sukses di atas baru sekedar preview dari ebook gratis kami: 5 Langkah Kunci Implementasi Elearning Perusahaan. Silakan download bagi yang membutuhkan referensi lebih lengkapnya di sini :

download 5 Langkah Kunci Implementasi Elearning Perusahaan

4 Jenis Budaya Perusahaan

Jenis Budaya Perusahaan

Budaya perusahaan yang mengacu pada nilai, perilaku dan standar yang telah menjadi hal yang umum atau bisa dikatakan telah menjadi karakter dari para anggota perusahaan memiliki dampak cukup besar terhadap kesuksesan perusahaan tersebut. Ada berbagai jenis budaya perusahaan yang berkembang dan tidak ada satu jenis budaya yang tepat untuk segala jenis perusahaan.

Masing-masing jenis budaya mampu mendorong berkembangnya sifat tertentu sementara di sisi lain akan menghambat berkembangnya sifat-sifat yang lain.

4 Jenis Budaya Perusahaan

Setidaknya ada 4 jenis budaya perusahaan yang umum ditemukan di masyarakat saat ini:

  • Budaya hierarki, dimana budaya ini memiliki struktur organisasi yang terkontrol dan juga aturan yang jelas dimana semua orang yang terlibat dalam perusahaan diharapkan untuk melakukan hal yang benar dan sesuai aturan
  • Budaya pasar. Budaya seperti ini lebih menekankan atau berfokus pada kompetisi di tengah ketatnya persaingan yang ada untuk memenangkan persaingan dan mendapatkan hasil yang diinginkan
  • Budaya adhoracy lebih menekankan pada penciptaan inovasi-inovasi terbaru. Sistem kerja yang berkembang pada perusahaan dengan budaya seperti ini pada umumnya lebih bersifat dinamis dan fleksibel tidak terikat pada aturan yang kaku
  • Budaya klan atau kelompok. Budaya kerja yang seperti ini lebih menekankan pada upaya untuk melakukan segala sesuatunya secara bersama-sama. Prinsip mentoring dan mendorong setiap anggota perusahaan untuk menjadi lebih baik adalah prinsip dasar yang diterapkan dalam budaya ini

Ingatlah bahwa tidak ada aturan baku mengenai jenis budaya yang tepat untuk jenis perusahaan tertentu. Hal yang bisa dilakukan oleh setiap pemilik perusahaan adalah memilih jenis budaya yang mendukung upaya mereka dalam mencapai tujuan utama dari perusahaan tersebut.

Infografik Blendedlearning

infografik blendedlearning
Sumber: Ingenio.co.id

Infografik Blendedlearning untuk Perusahaan

Ada banyak metode dan model pembelajaran / training perusahaan yang dapat diterapkan, salah satunya adalah metode blendedlearning. Apa itu blendedlearning? Blendedlearning adalah model penerapan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran dalam pendidikan formal dan meningkatkan kapasitas / ruang untuk menyelenggarakan pembelajaran di perusahaan. Tujuan pembelajaran / kompetensi hasil pembelajaran dapat dicapai dengan optimal memanfaatkan model tersebut. Dengan terbatasnya jumlah kelas, jumlah instruktur, tidak menjadi hambatan training tersebut diterapkan.

Dalam infografik ini dijelaskan mengenai konsep blendedlearning itu sendiri, model-model penerapan dan persentasi / porsi dari sesi online dan tatap muka.

PT Dataquest Leverage Indonesia akan menyelenggarakan training “Blendedlearning for Corporate” dimana dalam training tersebut akan dikupas secara mendetail tentang metodologi blendedlearning ini dan bagaimana penerapannya di perusahaan (baik di lembaga diklat, training center maupun corporate univesity).

Untuk mengetahui detailnya dapat Anda klik tautan berikut ini > Training “Blendedlearning for Corporate”

logo-dq-001

Copyright © 2020 Dataquest Leverage Indonesia. All Rights Reserved.