Infografis Interaktif

BIMTEK TIK
Pembuatan Infografis Interaktif untuk Pemerintahan

 

Infografis adalah representasi visual dari informasi, data atau ilmu pengetahuan secara grafis. Grafis ini memperlihatkan informasi rumit dengan singkat dan jelas, seperti pada papan, peta, jurnalisme, penulisan teknis, dan pendidikan. Melalui grafis informasi, pemerintahan daerah diharapkan mampu mengembangkan dan mengomunikasikan suatu program layanan melalui symbol-simbol grafis yang menarik. Infografis mengilustasikan informasi yang memiliki sedikit teks, dan berperan sebagai ringkasan visual untuk dikonsumsi oleh masyarakat umum.

Saat ini, infografis telah ada di segala bentuk media, mulai dari hasil cetakan biasa dan ilmiah hingga papan dan rambu jalan. Perkembangan TIK terkini memungkinkan kita untuk membuat infografis yang lebih bersifat interaktif dan multimedia, sehingga akan lebih memberikan dampak positif terhadap angka penerimaan sosialisasi program pemerintahaan di masyarakat.

 

Tujuan Bimtek

  1. Memahami konsep infografis untuk publikasi pemerintahan
  2. Mengetahui Studi kasus dan lesson learned implementasi infografis di pemerintahan
  3. Menganalisis kebutuhan infografis interaktif
  4. Mengoperasikan perangkat lunak pembuatan infografis interaktif
  5. Mendesain infografis interaktif untuk publikasi pemerintahan
  6. Mengevaluasi efektifitas infografis interaktif untuk publikasi pemerintahan

 

Outline Materi

  1. Konsep infografis untuk publikasi pemerintahan
  2. Studi Kasus dan lesson learned implementasi infografis di pemerintahan
  3. Analisis kebutuhan infografis interaktif
  4. Desain infografis interaktif untuk publikasi pemerintahan
  5. Fitur-fitur aplikasi Adobe illustrator
  6. Fitur-fitur aplikasi Articulate Storyline
  7. Evaluasi efektifitas infografis interaktif untuk publikasi pemerintahan

 

Pemateri

Asep Tsauri (Konsultan Multimedia dan Elearning)

 

 

Aplikasi Pengaduan Masyarakat berbasis Android

BIMTEK IT
Pembuatan Aplikasi Pengaduan Masyarakat berbasis Android

Teknologi Informasi dapat memberikan keuntungan (benefit) pada setiap lini pelayanan berupa Better (lebih baik), Cheaper (lebih murah), Larger (lebih luas) dan Faster (lebih cepat). Dengan kehadiran teknologi informasi setiap kegiatan pelayanan masyarakat dapat dilakukan dengan mudah dan praktis. Apalagi, saat ini hampir setiap individu masyarakat telah memiliki perangkat teknologi informasi yang senantiasa dibawa kemana pun yang bersangkutan beraktifitas, artinya teknologi informasi secara tidak langsung sudah dapat diakses oleh hampir seluruh lapisan masyarakat dan menjadi peluang besar dalam pengembangan layanan masyarakat lebih luas dan efektif.

Pembangunan dan pelayanan publik adalah amanah yang tidak bisa dilepaskan dari pemerintahan daerah. di antara berbagai layanan dasar yang harus disediakan oleh pemerintah daerah diperlukan sistem pengaduan masyarakat untuk menjamin setiap layanan publik yang dilaksanakan tepat sasaran. Sistem pengaduan masyakat diharapkan dapat menampung masukan, kritik, saran dan informasi dari masyarakat sebagai bahan evaluasi dan analisis kinerja menuju pemerintahan yang lebih baik. Namun demikian, sistem pengaduan masyakat saat ini yang berkembang masih terpaku pada sistem pesan singkat (sms) dan aplikasi berbasis web, dimana sebagian besar masyarakat saat ini sudah jarang menggunakan kedua aplikasi layanan tersebut.

Sistem operasi Android yang dikembangkan oleh Google.inc telah mengubah peta persebaran akses teknologi informasi oleh masyarakat, perangkat telepon pintar (smartphone) rata-rata menggunakan sistem operasi ini (mengalahkan sistem operasi lainnya seperti iOS, Windows phone, dll) sehingga dalam menciptakan sebuah aplikasi teknologi berbasis Android adalah pilihan tepat, karena akan menjangkau pengguna lebih banyak dibandingkan dengan sistem operasi lainnya.

 

Tujuan Bimtek

  1. Memahami pentingnya sistem pengaduan masyarakat berbasis mobile
  2. Mengetahui strategi implementasi dalam pengembangan sistem mobile
  3. Menganalisis kebutuhan sistem aplikasi pengaduan masyarakat berbasis Android
  4. Mengembangkan fitur-fitur kunci sistem aplikasi pengaduan masyarakat berbasis Android

 

Materi Pelatihan

  1. Sistem pengaduan masyarakat
  2. Android sebagai sistem operasi perangkat mobile
  3. Strategi implementasi aplikasi mobile di pemerintahan
  4. Analisa kebutuhan sistem aplikasi pengaduan masyarakat berbasis Android
  5. Pengembangan fitur-fitur sistem aplikasi pengaduan masyarakat berbasis Android

 

Pembelajaran berbasis TI

 || Training Pembuatan Materi Pembelajaran berbasis TI (Teknologi Informasi) ||
=========================================================

Untuk membuat sebuah konten elearning yang bagus dan kompatibel dengan segala platform dibutuhkan pemilihan authoring tool yang baik. Authoring tools sendiri merupakan perangkat aplikasi yabng digunakan untuk membuat konten elearning dengan berbagai macam output sesuai kebutuhan author. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih authoring tools yang tepat terkait dengan jenis konten pendistribusian konten dan tim pengembang konten. Dan khususnya untuk dunia pendidikan, authoring tool ini memungkinkan bagi para pendidik untuk mengembangkan konten digital dari berbagai macam media sehingga menghasilkan konten digital yang interaktif dan profesional.

Objektif Workshop:
1. Peserta mampu menjelaskan fungsi dan peran Instructional Design dalam memproduksi konten pembelajaran.
2. Peserta mampu membedakan jenis dan fungsi dari masing-masing aplikasi authoring tools.
3. Peserta mampu membedakan berbagai jenis Dokumentasi Instructional Design
4. Peserta mampu membuat video pembelajaran dengan menggunakan Camtasia
5. Peserta mampu membuat konten animasi dengan menggunakan Articulate
6. Peserta mampu membuat kuis animasi dengan menggunakan aplikasi Articulate
7. Peserta mampu mempublish project ke dalam bentuk SCORM

Materi Pembelajaran:
1. Peserta mampu menganalisis konten pembelajaran yang cocok untuk digunakan dalam beberapa model eLearning.
2. Peserta mampu membedakan fungsi dari masing-masing aplikasi authoring tools
3. Peserta mampu membuat konten pembelajaran Slide untuk digunakan di dalam eLearning
4. Peserta mampu membuat konten pembelajaran Audio untuk digunakan di dalam eLearning
5. Peserta mampu membuat konten pembelajaran Video untuk digunakan di dalam eLearning

Fasilitas:
1. Ruangan Eksklusif
2. Komputer per orang
3. Modul Pelatihan
4. Training Kit
5. Tas Pelatihan
6. Makan siang dan Snack
7. Sertifikat
8. Souvenir Pelatihan

Feasibility Study eLearning Pusdiklat Geologi Badiklat ESDM

Feasibility Study eLearning Pusdiklat Geologi Badiklat ESDM

BADIKLAT ESDM is considering a move to create and provide an online education and training (eLearning) from which its existing. Until now BADIKLAT ESDM has only have traditional education and training from its centers and facilities and has been limited online support within the geographical regions where its operates. By doing so, BADIKLAT ESDM has not been able to capitalize on the growing trend of online learning within the Pusdik or training centres of ESDM. By doing Feasibility Study of e-Learning Platform, BADIKLAT ESDM can know and plan People, Process and Technology which will be implement to an entirely organizations, increase Quality of Learning and growth Output of Diklat, and allow Stakeholder to have learning from the convenience of their time and location.

Cara Memilih Knowledge Management System Terbaik

dq12

Knowledge Management System atau disingkat KMS adalah salah satu aspek dalam Knowledge Management yang mengacu pada berbagai sistem informasi tekhnologi atau IT yang dipergunakan untuk menyimpan dan menyebarluaskan pengetahuan yang ada sehingga dapat meningkatkan kolaborasi, dapat dipergunakan untuk menemukan sumber pengetahuan yang dicari, serta dipergunakan dalam berbagai cara lain untuk bisa meningkatkan proses KM itu sendiri.

Untuk bisa mengimplementasikan konsep knowledge management (KM) dengan baik, ada berbagai cara atau dalam hal ini berbagai pilihan knowledge management system (KMS) yang bisa dipilih, yang akan sangat membantu dalam membuat proses implementasi berjalan dengan efektif. Beberapa pilihan KMS itu sendiri berupa

  • Sistem Groupware
  • Intranet dan extranet
  • Sistem managemen dokumentasi
  • Sistem managemen konten
  • Sistem pendukung keputusan
  • Penggalian dan penyimpanan data
  • Alat simulasi
  • Jaringan semantik
  • Alat penggunaan artificial inteligence

Setiap organisasi bisa memilih satu atau beberapa sistem sekaligus di dalam organisasi mereka. Namun pemilihan ini harus dilakukan dengan tepat agar sistem yang dipilih bisa berfungsi dengan maksimal. Untuk bisa memilih KMS yang paling baik yang sesuai dengan organisasi yang ada, maka ada beberapa langkah pemilihan yang bisa diambil yaitu:

1. Melakukan identifikasi internal terhadap organisasi itu sendiri

Identifikasi ini dilakukan dalam rangka mengenali berbagai permasalahan yang ada, yang sekiranya bisa diselesaikan dengan menggunakan KMS. Dengan begini, sistem KMS yang akan dipilih nanti akan bisa diselaraskan dengan tujuan dari organisasi yang ada, dan nantinya akan membantu organisasi untuk mencapai tujuan tersebut

2. Mencari tahu jenis KMS yang ada

Hal ini adalah langkah selanjutnya dalam proses pemilihan KMS yang paling tepat. Ada beberapa hal yang perlu diketahui dari masing-masing pilihan KMS yang ada mulai dari metode atau cara pengoperasian, melakukan evaluasi mengenai tingkat kompleksitas dari masing-masing pilihan, biaya yang dibutuhkan dalam pengoperasian sistem yang ada, biaya pelatihan serta biaya untuk melakukan update dari sistem tersebut.

3. Memilih jenis KMS yang sesuai dengan organisasi

Berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan mengenai masing-masing pilihan dari KMS tersebut, maka sebuah organisasi bisa memilih jenis KMS yang mana yang paling sesuai dengan kondisi yang ada, dan bisa mulai melakukan persiapan-persiapan untuk bisa menerapkan sistem yang telah dipilih di dalam lingkungan kerja organisasi tersebut

Setiap organisasi memiliki kebutuhan, situasi, kondisi dan tantangan yang berbeda-beda, sehingga sistem yang sama belum tentu akan bisa berfungsi dengan maksimal dalam dua organisasi yang berbeda.Setelah proses pemilihan KMS, perlu dilakukan evaluasi dari waktu ke waktu untuk bisa melihat tingkat efektifitas dari sistem yang telah dipilih dan melakukan perubahan-perubahan yang dibutuhkan.

Storytelling: Cara Jitu Knowledge Sharing

consultacy

Storytelling atau bercerita merupakan sebuah praktek kuno yang telah dilakukan sejak jaman dahulu kala, sebagai salah satu cara untuk menyampaikan sesuatu hal yang penuh makna dan juga emosi. Penggunaan storytelling bisa menjadi salah satu cara untuk menarik perhatian para pendengar dan secara tidak langsung meningkatkan kemampuan para pendengar untuk mendengarkan dan mempelajari sesuatu dari cerita tersebut.

Sang pencerita atau mereka yang melakukan storytelling bisa berbagi banyak hal termasuk juga pengetahuan yang mereka miliki, pengalaman serta berbagai hal lain yang dalam dunia knowledge management (KM) termasuk dalam golongan tacit knowledge. Cerita yang baik akan mampu meninggalkan kesan yang mendalam kepada para pendengarnya dan hal inilah yang membuat storytelling memiliki potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai salah satu metode dalam knowledge sharing.

Salah satu pendapat yang mendukung mengenai penggunan storytelling dalam sebuah organisasi adalah Liebowitz. Menurut beliau, storytelling bisa menangkap cerita dan pengalaman serta rutinitas sebuah organisasi di masa lalu, sehingga memudahkan para pekerja di masa sekarang untuk memanfaatkan inti cerita tersebut dan mengadaptasikannya dengan kondisi yang ada.

Ada berbagai potensi manfaat dan applikasi dari storytelling yang bisa dipergunakan di dalam sebuah organisasi atau sebuah perusahaan. Storytelling bisa dipergunakan dalam upaya untuk melakukan monitoring terhadap sebuah sistem yang sedang berjalan, sebagai upaya pemecahan masalah, sebagai metode pemanasan dalam sebuah workshop, sebagai bentuk latihan dalam sebuah tim atau komunitas dan bisa juga dimanfaatkan sebagai cara untuk memecah penghalang yang ada antara orang-orang yang berasal dari disiplin ilmu atau asal budaya yang berbeda.

Untuk bisa mendapatkan hasil yang diinginkan melalui storytelling, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Hal-hal ini dipaparkan oleh Sole dan Wilson pada tahun 2002 dan hal-hal tersebut adalah:

  • Menetapkan tujuan yang jelas dari cerita tersebut
  • Memberikan cerita yang sederhana, yaitu cerita yang mudah dipahami oleh para pendengarnya
  • Mencoba untuk menggunakan lebih dari satu medium dalam proses bercerita misalnya saja gambar atau video
  • Memonitor bagaimana reaksi para pendengar dalam mendengarkan cerita. Bisa dilakukan perubahan-perubahan tertentu agar cerita tersebut bisa menjadi lebih menarik baik dalam hal cara bercerita ataupun penambahan medium cerita
  • Melatih kemampuan bercerita agar menjadi lebih baik lagi.

Artikel tentang Knowledge Management sebelumnya :

1. Cara Efektif Menerapkan Knowledge Management

2. Cara memilih strategi manajemen pengetahuan yang tepat

3. Tips Knowledge Management untuk meningkatkan Service Quality

LMS Moodle CCC

LMS Moodle CCC [Course Creator Certificate]
Program Training dan Sertifikasi Online Course Creator
E-Learning Perguruan Tinggi

Course CreatorCertificate (CCC) adalah sebuah program sertifikasi yang memvalidasi pengetahuan dan keterampilan Anda dalam merancang dan mengembangkan konten pembelajaran dengan menggunakan e-Learning dengan memanfaatkan LMS Moodle. Seorang course creator tidak sebatas memiliki kemampuan dalam menggunakan LMS saja, tetapi juga harus memiliki pengetahuan konseppembelajaran yang dikembangkan e-Learning. Course Creator adalah seseorang yang bertanggung jawab akan kelas yang dibuatnya. Oleh sebab itu, sekurang kurangnya seorang course creator harus memilki pengetahuan dan kemampuan untuk menganalisis, mendesain dan mengembangkan sebuah online course dengan memanfaatkan Learning AMnagement System. Pada program ini, kami menyediakan sebuah pelatihan yang dapat anda ikuti untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti ujian sertifikasi.

Adapun jenis tes yang digunakan dalam program sertifikasi ini yaitu:
1. Objective Test : Meliputi materi-materi konseptual mengenai konsep pembelajaran berbasis e-Learning dan2. Performance Test : Memvalidasi kemampuan anda dalam mengguankan LMS Moodle 2.X sebagai perangkat dalam mengembangkan e-Learning.

Instruktur
Para pakar e-Learning dari Perguruan Tinggi ternama.

Perguruan Tinggi yang pernah mengikuti training & sertifikasi ini, diantaranya:

  • Universitas Singaperbangsa Karawang
  • Universitas Muhammadiyah Magelang
  • Universitas Budi Luhur
  • Universitas Hang Tuah Surabaya
  • Politeknik Piksi Ganesha
  • Universitas Nasional
  • President University
  • Universitas Sahid Jakarta
  • Universitas Pancasila
  • Universitas Al-Azhar Indonesia
  • Universitas Borobudur
  • Universitas Swadaya Gunung Jati
  • STIE INABA Bandung
  • Universitas Katolik Parahyangan
  • Universitas Nusa Cendana
  • Universitas Negeri Malang
  • Universitas Muhammadiyah Semarang
  • Institut Sains dan Teknologi Nasional
  • Universitas Sriwijaya
  • Universitas Riau Kepulauan Batam
  • Universitas Maritim Raja Ali Haji
  • Universitas Hasanuddin
  • Politeknik Negeri Bandung
  • Universitas Pattimura
  • Dan lain sebagainya.

Siapa saja yang dapat mengikuti Training ini?
Dosen, Pengelola Kelas Online.

4 Tips Mewujudkan Kantor Paperless

paperless

4 Tips Mewujudkan Kantor Paperless : Istilah ‘kantor paperless’ atau ‘kantor tanpa kertas’ yang telah didengungkan hampir lima dekade terakhir tampaknya tidak dapat diwujudkan semudah yang dibayangkan. Berbagai aktivitas yang dijalankan di tempat kerja tidak serta merta dapat ‘di-dijital-isasi’ karena berbagai alasan, seperti surat-surat perjanjian dan dokumen-dokumen lain yang tetap diperlukan dalam bentuk fisik kertas.

Namun demikian,  mewujudkan ‘kantor tanpa kertas’ dapat diupayakan (meskipun tidak 100%) dengan beberapa tips berikut ini :

#1 Batasi Penggunaan dan Bujet Pembelian Kertas

Apabila memang penggunaan kertas oleh para karyawan tidak dapat dihindari, cobalah untuk menghitung ulang berapa halaman kertas yang dihabiskan oleh tiap karyawan tiap harinya? Apakah memungkinkan untuk mengurangi jumlah halaman yang dihabiskan tiap harinya?

Membatasi penggunaan kertas berarti membiasakan para karyawan untuk lebih cermat dalam menggunakan kertas yang tersedia. Dengan pembatasan penggunaan karyawan diharapkan dapat lebih hemat dan cerdik dalam menghabiskan kertas, apakah dengan menggunakan kembali kertas-kertas bekas dan atau mengalihkan ke bentuk dijital.

Dengan membatasi penggunaan kertas oleh para karyawan otomatis dapat mengurangi bujet perusahaan secara keseluruhan juga, dan lebih penting lagi adalah membiasakan budaya menghemat kertas pada karyawan.

#2 Perbarui Proses Bisnis Anda

Jika Anda serius ingin mewujudkan ‘kantor tanpa kertas’ maka fokuslah pada pembaruan proses bisnis yang selama ini berjalan. Periksalah kembali berbagai prosedur yang menghabiskan sumberdaya kertas selama ini.

Beberapa upaya dapat dilakukan :

  1. Ubahlah prosedur penandatanganan dokumen fisik (terutama pada proses bisnis internal) menjadi bentuk penandatanganan elektronik.
  2. Ubahlah prosedur pengiriman dokumen yang selama ini menggunakan mesin fax menjadi pengiriman dukumen dijital berbentuk pdf melalui email. Banyak aplikasi gratis yang dapat dengan mudah mengkonversi dokumen menjadi format dijital seperti pdf ini.

#3 Sediakan Infrastruktur Pendukung

‘kantor tanpa kertas’ perlu didukung oleh infrastruktur kantor yang memadai. Apakah sudah tersedia scanner di tiap unit kerja? Atau pernah kah Anda mempertimbangkan untuk memberikan fasilitas proyektor / monitor tambahan bagi karyawan?

Scanner akan sangat membantu karyawan dalam melakukan dijitalisasi dokumen dan proyektor akan sangat membantu karyawan dalam mengatasi permasalahan lintas rujukan yang selama ini harus melalui dokumen yang tercetak.

#4 Gunakan Aplikasi-Aplikasi Pendukung

Era teknologi dijital saat ini telah memberikan solusi terbaik untuk mewujudkan ‘kantor tanpa kertas’. Berbagai software dapat mendukung produktivitas karyawan seperti aplikasi Optical Character Reconition (OCR), Google Docs, Evernote dan sebagainya.

Apakah Anda siap mewujudkan ‘kantor tanpa kertas’ mulai hari ini?

Creating and Delivering a Successful Knowledge Management Strategy

Creating and Delivering a Successful Knowledge Management Strategy

 

Latar Belakang

Pada dekade terakhir, manajemen pengetahuan (Knowledge Management) telah semakin menjadi praktik strategis penting yang memungkinkan organisasi untuk beroperasi secara lebih efisien dan mendapatkan keunggulan kompetitif di pasar. Namun, dalam perkembangannya di berbagai perusahaan Knowledge Management belum dapat diterapkan dengan baik dan sukses karena berbagai faktor penghambat yang terjadi dalam pelaksanaannya, seperti masalah dukungan manajemen, budaya belajar dan berbagi yang rendah serta alat ukur yang tidak terstandar dalam mengukur efektifitas knowledge management tersebut.

Dalam training ini akan disampaikan 3 (tiga) faktor kunci bagaimana membuat dan menyelenggarakan Knowledge Management di perusahaan agar berjalan dengan sukses dan mencapai tujuannya, diantaranya bagaimana mendapatkan dukungan top management, bagaimana membuat budaya pembelajaran di organisasi menggunakan berbagai media dan bagaimana mengukur efektifitas penyelenggaraan Knowledge Management itu sendiri.

 

Tujuan Pelatihan

  1. Memahami pentingnya dukungan top management dalam pelaksanaan knowledge management di perusahaan
  2. Mengetahui strategi-strategi yang dapat dilakukan untuk mendapatkan dukungan top management dalam penyelenggaraan knowledge management
  3. Memahami pentingnya budaya berbagi (sharing) dan belajar (learning) di organisasi dalam penerapan KM
  4. Mengetahui strategi dan alat (tool) yang dapat diterapkan dalam rangka menumbuhkan budaya berbagi (sharing) dan belajar (learning) di organisasi
  5. Mengetahui cara menyusun standar dan alat ukur pelaksanaan knowledge management yang efektif

 

Topik Materi

  1. Knowledge Management dalam Learning Organization
  2. Menyusun visi, misi dan tujuan knowledge management
  3. Dukungan Top Management dalam penyelenggaraan KM
  4. Membangun tim Knowledge Management
  5. Pemanfaatan teknologi dalam knowledge management
  6. Membangun kultur berbagi (sharing) dan belajar (learning) dalam organisasi
  7. Menyusun standar dan alat ukur pelaksanaan KM yang efektif

 

Trainer

Djadja Sardjana (Konsultan E-learning dan Knowledge Management) (https://www.linkedin.com/in/djadja)

 

Menyusun Alat Evaluasi eLearning

Menyusun Alat Evaluasi Elearning
(Strategi jitu merumuskan test yang paling tepat untuk mengukur ketuntasan belajar Karyawan Melalui Elearning)

 

Overview

Kirkpatrick model memberikan panduan yang sangat jelas bagaimana kita dapat mengukur keberhasilan suatu training, termasuk melalui media E-learning. Melalui pengelompokan 4 (empat) level evaluasi, kita dapat menentukan apakah training yang telah diselenggarakan telah tepat sasaran sesuai harapan yang secara eksplisit dinyatakan dalam objektif training?

Dalam training ini akan dipelajari secara mendalam bagaimana menyusun alat evaluasi hingga level ke-2 dari model Kirkpatrick. Pada Level pertama (reaksi) akan disampaikan bagaimana teori dan implementasi menyusun survey yang dapat menggambarkan dengan jelas reaksi peserta pelatihan setelah mengikuti training, sedangkan pada level ke-2 (knowledge) akan disampaikan teori dan strategi implementasi menyusun soal-soal yang dapat mengukur kemampuan peserta training secara tepat sasaran.  Selain itu, dalam training ini juga akan dibahas bagaimana strategi dan tips/trik untuk mengimplementasikan alat evaluasi ke dalam Learning Management System (elearning) perusahaan, khususnya LMS berbasis Moodle.

 

Objektif pelatihan

  1. Memahami teori dan implementasi model Kirkpatrick dalam penerapan elearning
  2. Memahami langkah-langkah menyusun objektif pelatihan
  3. Memahami cara memetakan objektif pelatihan terhadap alat evaluasi pelatihan
  4. Menyusun alat evaluasi training pada level pertama (reaction) Kirkpatrick model
  5. Menyusun alat evaluasi training pada level kedua (knowledge) Kirkpatrick model
  6. Mengimplementasikan alat evaluasi ke dalam Learning Management System berbasis Moodle

 

Materi Pembelajaran

  1. Pengenalan Kirkpatrick model
  2. Penyusunan objektif pelatihan menggunakan Bloom Taxonomy
  3. Penyusunan alat evaluasi training pada level pertama (reaction) Kirkpatrick model
  4. Penyusunan alat evaluasi training pada level kedua (knowledge) Kirkpatrick model
  5. Simulasi menyusun alat evaluasi ke dalam Learning Management System berbasis Moodle

 

Trainer

Asep Tsauri. Instructional Design Consultant (https://www.linkedin.com/in/tsauri28)